Harapan Inter Milan untuk menorehkan sejarah dengan mengulang kejayaan treble musim 2009/2010 pupus sudah setelah kekalahan telak dari AC Milan dalam semifinal Coppa Italia. Kemenangan 3-0 yang diraih Rossoneri dalam laga leg kedua, yang menambah agregat menjadi 4-1, menandai akhir dari ambisi Inter untuk menyapu bersih tiga gelar musim ini.
Dua gol dari Luka Jovic serta satu lesakan dari Tijjani Reijnders menjadi pembeda dalam laga yang berlangsung pada Rabu malam tersebut. Hasil itu memastikan Inter tersingkir dari Coppa Italia, dan dengan itu pula, impian akan musim sempurna pun kandas di tengah jalan.
Kini, hanya tersisa dua tim elite Eropa yang masih memiliki kans menyabet treble winners di musim 2024/2025—Paris Saint-Germain dan Barcelona. Kedua raksasa tersebut masih berpeluang mencetak sejarah dalam perjalanannya di kompetisi domestik dan Eropa.
Tak Ada Lagi Mimpi Treble untuk Inter Milan

Inter Milan sejatinya masih duduk di puncak klasemen Serie A. Namun, persaingan ketat dengan Napoli yang kini memiliki poin sama membuat jalur menuju scudetto terasa jauh dari kata mudah. Apalagi, mereka juga harus bersiap menghadapi tantangan berat lainnya: semifinal Liga Champions melawan Barcelona.
Pertemuan melawan Blaugrana akan berlangsung dalam dua leg, dimulai pada Rabu, 30 April mendatang. Sebuah duel yang bukan hanya akan menjadi ajang unjuk kekuatan antar dua raksasa, tetapi juga penentu langkah Inter apakah mereka mampu tetap berada di jalur dua gelar sisa—Serie A dan Liga Champions.
Sayangnya, catatan sejarah musim ini tak berpihak pada Nerazzurri saat berhadapan dengan rival sekota mereka. Dalam lima laga yang telah dijalani melawan AC Milan sepanjang musim, Inter hanya mampu mencatat dua hasil imbang dan tiga kali kalah. Milan yang saat ini berada di posisi kesembilan Serie A justru mampu tampil lebih efektif dalam duel penuh gengsi tersebut.
Fokus dan Mental Jadi Kunci
Menanggapi kekalahan menyakitkan dari Milan, pelatih Simone Inzaghi tak menutupi bahwa timnya sedang berada dalam periode berat, baik secara fisik maupun mental. Ia mengakui bahwa musim yang padat ini mulai menggerus energi skuadnya, tapi menegaskan bahwa Inter tidak boleh tenggelam dalam kelelahan itu.
“Kami harus terus melangkah,” ucap Inzaghi seusai pertandingan.
“Ada kelelahan fisik dan mental, kami harus lebih kuat dari semua itu.”
Ia juga menyoroti performa timnya yang kurang maksimal dalam area krusial di lapangan.
“Perjalanan ini telah membawa banyak kebahagiaan, tapi juga beberapa kekecewaan, seperti malam ini. Kami seharusnya bisa tampil lebih baik—kami kurang tajam di kedua kotak penalti pada momen-momen penting pertandingan.”
Tak Ada Tempat untuk Alasan
Meski kelelahan diakui, Inzaghi tidak ingin kondisi itu menjadi tameng untuk menutupi kegagalan.
“Itu tidak bisa dijadikan alasan,” tegas sang pelatih.
“Kami harus menunjukkan fokus maksimal di area penalti, dan malam ini kami gagal melakukannya. Setiap tim pasti menghadapi kelelahan. Jadwal kami memang lebih padat dibanding tim lain, tapi sekali lagi, itu bukan alasan. Jika kami gagal mencapai final, artinya kami belum melakukan cukup.”
Baginya, musim masih belum berakhir. Inter masih memiliki satu bulan penuh untuk memperjuangkan dua gelar tersisa, dan semua pemain dituntut untuk mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
“Hari ini tanggal 24 April, masih ada satu bulan tersisa, dan kami harus terus melangkah dengan percaya diri. Malam ini, Milan pantas menang dan memang layak lolos ke final.”
“Sekarang saatnya kami bangkit dan memberikan segalanya pada hari Minggu melawan Roma,” tutupnya dengan penuh harap.
Jadwal Padat Jadi Ujian Mental dan Strategi

Inter kini berada di persimpangan. Mereka harus menghadapi Roma di pertandingan tunda Serie A, sebelum bertolak ke markas Barcelona untuk leg pertama semifinal Liga Champions. Dua laga yang sangat penting dan dapat menentukan wajah akhir musim Nerazzurri.
Dengan tekanan yang terus meningkat, manajemen rotasi pemain serta kondisi psikologis skuad akan menjadi tantangan besar bagi Inzaghi dan staf pelatih. Tim harus segera bangkit dari keterpurukan dan memulihkan kembali kepercayaan diri.
Sementara itu, AC Milan yang baru saja menggagalkan ambisi rivalnya, mungkin telah menemukan momentum untuk memperbaiki posisi di klasemen. Meski terpaut jauh dari puncak, kemenangan besar atas Inter jelas menjadi suntikan semangat yang tidak bisa diremehkan.
PSG dan Barcelona: Dua Penantang Sisa di Lintasan Treble
Dengan tersingkirnya Inter dari Coppa Italia, tinggal PSG dan Barcelona yang masih berdiri tegak dalam perburuan treble. Keduanya masih aktif di kompetisi domestik dan Eropa, serta memiliki kedalaman skuad yang cukup mumpuni untuk menyelesaikan musim dengan sempurna.
Barcelona sendiri masih harus menghadapi Inter di semifinal Liga Champions, dan andai bisa melewati hadangan tim Italia tersebut, peluang untuk mencetak sejarah terbuka lebar. Di sisi lain, PSG yang tampil dominan di Ligue 1 juga masih terus melaju di kompetisi Eropa dan domestik.
Musim 2024/2025 menjanjikan drama sampai detik terakhir, dan meski Inter sudah kehilangan satu bagian penting dari puzzle treble mereka, perjalanan mereka belum sepenuhnya selesai. Masih ada dua trofi yang bisa diselamatkan, dan harapan para tifosi masih menggantung di udara














Leave a Reply